Daerah

DLH Kabupaten Kediri Bantah Telah Keluarkan Hasil Pengecekan Dugaan Pencemaran Limbah di RS. Aura Syifa

KEDIRI – POROSNEWS.CO
Menanggapi simpang siur informasi mengenai dugaan pencemaran limbah di Rumah Sakit (RS) Aura Syifa, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kediri akhirnya memberikan klarifikasi resmi.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kediri, Putut Agung Subekti, mengatakan, ​hasil pengecekan atau verifikasi di Lapangan oleh tim pengawas sudah dilakukan dua kali, yakni pada 25 Februari dan 27 Februari 2026. Menurutnya, Verifikasi dilakukan tidak hanya di manajemen rumah sakit, tetapi juga di lapangan bersama pihak desa setempat.

​”Kami telah melakukan verifikasi lapangan di luar area rumah sakit untuk menindaklanjuti aduan masyarakat (pencemaran limbah). Saat ini kami sedang menyusun laporan tindak lanjutnya. Jadi bila seolah-olah DLH dikatakan sudah mengeluarkan pernyataan, tidak ada pencemaran limbah di RS Aura Syifa, itu tidak benar ,” jelas Putut kepada sejumlah wartawan, Senin (2/3/2026).

Masih menurut Putut, ​DLH berkomitmen untuk segera menyelesaikan laporan akhir (hasil pengecekan) guna memberikan kepastian hukum dan kenyamanan bagi masyarakat maupun pihak rumah sakit.

Terkait substansi aduan mengenai persampahan, Putut memaparkan beberapa temuan awal yaitu sampah domestik yang berasal dari sisa dapur dan makanan. Sampah ini dibuang ke TPA Sekoto setiap dua hari sekali menggunakan truk tertutup dan tidak ditemukan bau menyengat yang mengganggu.

​Untul limbah B3 (Medis), menurut Putut, bahwa RS Aura Syifa dipastikan memiliki Tempat Penampungan Sementara (TPS) B3 yang legal dan sesuai ketentuan.

“Pengolahan limbah medis dilakukan melalui kerja sama dengan pihak ketiga yang berizin, yaitu PT Putra Restu Ibu Abadi (PRIA), ” terangnya.

​Terkait adanya laporan bau menyengat dan keluhan kesehatan, lanjut Putut, DLH sudah melakukan pengecekan langsung di area RT 20 dan RT 30. Hasil wawancara dengan warga sekitar menunjukkan tidak ditemukan adanya bau menyengat yang luar biasa.

​”Fakta di lapangan menunjukkan (memang) ada bau khas limbah domestik dari saluran air (drainase). Hal ini dikarenakan saluran tersebut digunakan secara bersama-sama oleh pihak rumah sakit dan masyarakat,” tambah Putut.

​Sementara itu, terkait keluhan warga yang mengalami sakit batuk akibat lingkungan, lanjutnya lagi, pihak Dinas Kesehatan yang turut mendampingi menyatakan bahwa berdasarkan data dari Puskesmas Ngasem, tidak ada laporan lonjakan kasus batuk yang tidak wajar dan kondisi kesehatan masyarakat di sekitar lokasi terpantau dalam standar normal.

Sementara itu, Ketua Grib Kaya Kabupaten Kediri, Iswahyudi, mengatakan, bahwa pihaknya menerima laporan adanya dugaan pencemaran limbah di RS. Aura Syifa dari warga Dlopo. Setelah menerima laporan itu, lanjut Iswahyudi, pihaknya lalu berkirim surat ke RS. Aura Syifa, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kediri dan instansi terkait lainnya.

“Yang saya heran, Dinas Lingkungan Hidup menyatakan tidak ada pencemaran limbah di RS. Aura Syifa. Padahal, DLH baru melakukan pengecekan di lapangan dan hasil mengecekan belum ditindaklanjuti dengan pemeriksaan di laboratorium. Pernyataan DLH itu kami ketahui dari berita di media sosial,”kata Iswahyudi, usai klarifikasi ke DLH.

Menurut Iswahyudi, pihaknya sengaja mendatangi kantor DLH untuk mempertanyakan pernyataan yang sempat beredar di media bahwa “tidak ada limbah” di RS Aura Syifa. Menurutnya, setiap aktivitas manusia pasti menghasilkan limbah.

​”Kita ingin klarifikasi apakah benar statement itu murni keluar dari DLH. Karena kita tahu yang namanya limbah, jangankan rumah sakit, rumah tangga pun pasti menghasilkan limbah,”imbuh Isyawayudi.

​Hasil pertemuan tersebut, lanjutnya, bahwa DLH saat ini masih dalam tahap pengumpulan data. “Pak Putut (Kepala DLH) menyampaikan itu bukan pernyataan resmi karena masih dalam tahap kajian, evaluasi, dan pengumpulan data klarifikasi. Tentunya kami akan mengawal kasus ini hingga tuntas,” tegasnya. (Tim).

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *