Gala Premiere Film Piye To Kih Diserbu Penonton, Wali Kota Kediri Bangga dengan Potensi Perfilman Lokal
KEDIRI – POROSNEWS.CO
Antusiasme masyarakat Kota Kediri menyambut pemutaran perdana (gala premiere) film Piye To Kih? di City Plaza Kediri XXI, Jumat (6/11/2026), berlangsung luar biasa. Sejumlah tokoh penting turut hadir, di antaranya Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, Wakil Wali Kota Kediri Gus Qowimuddin, serta Wakil Bupati Kediri Dewi Maria Ulfa.
Membludaknya jumlah penonton menjadi bukti tingginya rasa penasaran masyarakat terhadap film yang dibintangi sejumlah talenta asal Kediri tersebut.
Suasana antusias bahkan terasa sepanjang pemutaran film. Gelak tawa berkali-kali terdengar dari dalam studio ketika Mukidi, Gendut, dan Penyok memainkan berbagai adegan komedi yang mengundang tawa penonton.
Film Piye To Kih? mengisahkan perjalanan Mukidi, seorang lelaki yang ingin membuktikan bahwa dirinya sudah pantas untuk menikah. Namun, alih-alih menemukan kebahagiaan, kehidupannya justru berantakan. Hubungan asmara dengan perempuan pujaan hatinya kandas di tengah jalan.
Di tengah keterpurukan tersebut, Mukidi memutuskan menempati sebuah rumah lawas. Di tempat itulah ia bertemu Sukma, seorang perempuan yang telah meninggal dunia dan dahulu juga pernah tinggal di rumah tersebut.
Menariknya, Mukidi dan Sukma ternyata memiliki kesamaan nasib dalam urusan asmara. Keduanya sama-sama mengalami kegagalan dalam hubungan percintaan.
Pertemuan mereka kemudian berkembang menjadi hubungan yang semakin rumit. Perbedaan dunia tempat mereka berada ternyata bukan satu-satunya persoalan. Keduanya juga memiliki perbedaan keyakinan agama.
Namun, di balik berbagai perbedaan itu, Mukidi justru mampu menjalin kedekatan dengan Sukma. Bahkan, Mukidi membantu Sukma memperbaiki hubungan dengan ayahnya, Nggalino.
Selama bertahun-tahun, Sukma menyimpan kemarahan terhadap sang ayah karena memperoleh informasi yang keliru tentang masa lalu keluarganya. Setelah mengetahui kebenaran dan saling memaafkan, Sukma akhirnya bisa melepaskan beban masa lalunya dan menemukan ketenangan.
Film Piye To Kih? tidak sekadar menyuguhkan kisah romantisme Mukidi dan Sukma. Film ini memadukan drama, unsur supranatural, dan komedi dengan mengangkat tema persahabatan, keluarga, kehilangan, kejujuran, serta perjalanan seseorang untuk memperbaiki diri.
Karakter Gendut dan Penyok juga tidak hanya menjadi pemantik kelucuan, tetapi turut mewarnai perjalanan hidup Mukidi. Sementara itu, keluarga menjadi salah satu fondasi emosional yang membuat tokoh utama harus berhadapan dengan berbagai pilihan dan konsekuensi kehidupannya.
Usai pemutaran film, Mukidi mengaku senang dengan sambutan masyarakat Kediri. Baginya, terlibat dalam film tersebut menjadi pengalaman baru yang memberikan banyak pelajaran.
Ia mengakui, pada tahap awal proses produksi sempat mengalami kesulitan membangun chemistry dengan pemain lainnya.
“Awalnya memang agak sulit karena sebelumnya belum tahu Mbak Dara dan pemain lainnya,” ungkap Mukidi.
Untuk mengatasi kendala tersebut, ia memperbanyak komunikasi dan membangun kedekatan dengan para pemain, termasuk melalui obrolan di luar kegiatan syuting.
Sementara itu, Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengaku sangat terhibur setelah menyaksikan film tersebut. Menurutnya, perpaduan horor dan komedi menjadi daya tarik tersendiri sehingga penonton tidak terus-menerus merasa takut.
“Meskipun horor, tetapi ada komedinya sehingga penonton tidak merasa takut,” ujar Vinanda.
Ia juga menilai penggunaan bahasa Jawa dalam film tersebut menjadi keunikan tersendiri. Menurutnya, masih jarang film yang mengangkat kehidupan sehari-hari masyarakat dengan menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa utama.
Vinanda mengaku bangga karena banyak pemain dalam film tersebut berasal dari Kediri. Ia juga memberikan apresiasi terhadap semangat dan kegigihan para pelaku kreatif, khususnya perjalanan panjang Woko Channel dalam mengembangkan karya hiburan hingga merambah industri perfilman.
“Semangat pantang menyerah itu dibuktikan dari perjalanan panjang Woko Channel selama ini,” tutur perempuan yang akrab disapa Mbak Wali tersebut.
Vinanda berharap kehadiran film Piye To Kih? dapat menjadi pemantik tumbuhnya industri perfilman di Kota Kediri. Menurutnya, keterlibatan talenta lokal dalam produksi film ini membuktikan bahwa Kediri memiliki potensi besar di bidang ekonomi kreatif.
“Artis di film ini juga berasal dari Kediri. Ini membuktikan bahwa Kediri punya banyak potensi, salah satunya di industri perfilman,” ungkapnya.
Ia berharap, keberhasilan produksi dan pemutaran film tersebut dapat membuka peluang lebih luas bagi para pekerja seni, kreator konten, serta pelaku ekonomi kreatif lokal untuk terus berkarya dan menghasilkan produk yang mampu bersaing di tingkat nasional.
Dengan demikian, film Piye To Kih? tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi salah satu bukti bahwa talenta lokal Kediri memiliki kesempatan untuk berkembang dan mengambil bagian dalam industri perfilman Indonesia. (son)

