Pameran Art for Peace and a Better Future Suarakan Isu Lingkungan, Kementerian Ekraf Jadikan Pameran Seni Rupa Katalis Ekonomi Kreatif Global
JAKARTA – POROSNEWS.CO
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya, mengapresiasi pameran lukisan Art for Peace and a Better Future: Collaboration persembahan SBY Art Community (SAC).
Menteri Ekraf menilai gelaran dalam rangka memperingati 81 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia itu telah menjadi ruang refleksi bagi para seniman dalam merespons kenyataan bencana alam belakangan melalui subsektor seni rupa.
“Kami menyampaikan apresiasi kepada SBY Art Community beserta para pelukis yang tergabung di dalamnya. Melalui karya-karya yang ditampilkan, para seniman menyampaikan respons dan refleksi terhadap situasi global yang terjadi saat ini. Gagasan itu kemudian dapat dinikmati dan dipahami oleh masyarakat, khususnya publik di Jakarta, melalui bahasa seni,” ucap Teuku Riefky, Rabu (2/9/2026).
Pameran berlangsung dari 18-30 Agustus 2026 di Galeri Emiria Soenassa dan Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki Jakarta, serta di ASHTA District 8 SCBD. SAC yang lahir dari gagasan Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), bertujuan memajukan seni rupa Tanah Air sekaligus menjadi katalis kebersamaan dan keadilan global serta bergerak di atas tiga pilar utama, yaitu resolusi konflik dan perdamaian, penegakan kemanusiaan, serta kelestarian lingkungan.
Pameran ini didukung oleh Kementerian Ekraf bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kornfeld Galerie Berlin, Kementerian Kebudayaan, hingga berbagai mitra seni budaya. Dukungan lintas lembaga tersebut menegaskan komitmen kolektif dalam mendorong Jakarta menuju pusat seni rupa bertaraf internasional.
“Kami berharap kolaborasi dalam SBY Art Community dapat terus berkembang dan membuka lebih banyak kesempatan bagi seniman Indonesia untuk berkarya dan berjejaring di tingkat internasional,” tambah Menteri Ekraf.
Pameran yang dikuratori Gie Sanjaya ini menampilkan 150 lukisan terkurasi, terdiri atas 52 karya SBY, 29 karya Christopher Lehmpfuhl, 63 karya seniman SBY Art Community, lima karya seniman cilik, dan satu karya kolaborasi. Seluruh eksibisi merangkum hasil olah rasa para perupa dari ISI Yogyakarta, ISI Solo, ITB Bandung, IKJ Jakarta, hingga praktisi independen.
Salah satu sorotan utama bertajuk Greener World, No more Choice karya Akbar Linggaprana berukuran 200 x 300 cm memadukan lanskap surrealistis hutan dan samudra sebagai cerminan kegelisahan atas krisis alam.
Visualisasi ikan yang terlempar keluar dari air beserta atmosfer kontras dan pohon gersang menyimbolkan keterancaman ekosistem akibat penebangan liar, pemanasan global, hingga pencemaran industri.
“Apa yang kita hadapi seperti kebakaran hutan, banjir bahkan runtuhnya gletser atau bongkahan es di wilayah pegunungan Himalaya dekat perbatasan Nepal-Tibet adalah peringatan nyata untuk kita memperbaiki alam dan lingkungan kita,” jelas Akbar Linggaprana.
Turut hadir dalam acara tersebut dari pihak Kementerian Ekraf, Staf Khusus Menteri Bidang Komunikasi Renanda Bachtar, serta Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Dadam Mahdar.(dim)

