SosBud

Pemerintah Dorong Film ‘5 CM’ Jadi Penggerak Ekonomi Kreatif dan Berdaya Saing Global

JAKARTA – POROSNEWS.CO

Pemerintah berupaya memperkuat ekosistem perfilman nasional melalui Intellectual Property agar daya saing industri perfilman semakin meningkat.

Upaya yang dilakukan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) menekankan, film tidak hanya berperan sebagai produk hiburan, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam mendorong dampak ekonomi, sosial, dan budaya secara luas.

Hal itu menjadi salah satu bahasan saat Wamen Ekraf Irene Umar menerima audiensi Soraya Intercine Films melalui pengembangan sekuel film 5 cm. Film 5 cm yang dirilis pada 2012 meraih lebih dari 2,4 juta penonton dan menjadi contoh IP lokal yang mampu menciptakan multiplier effect, termasuk mendorong minat terhadap aktivitas luar ruang dan eksplorasi alam Indonesia.

“Film seperti 5 cm menunjukkan bahwa karya kreatif Indonesia bisa memberi dampak nyata dan berkelanjutan, sekaligus menjadi penggerak ekonomi kreatif yang kuat,” kata Wamen Ekraf dalam audiensi di Autograph Tower, Jakarta, Kamis (30/4/2026).

Kementerian Ekraf siap memfasilitasi kolaborasi melalui berbagai inisiatif strategis, termasuk membuka akses kerja sama dengan BUMN dan mitra strategis untuk memperluas promosi film di ruang publik melalui kanal transportasi publik, media luar ruang, serta penempatan konten di berbagai titik strategis.

“Kami ingin memastikan IP film Indonesia bisa hadir lebih dekat dengan masyarakat dan memiliki jangkauan yang lebih luas,” ucap Wamen Ekraf.

Kementerian Ekraf juga mendorong integrasi film dalam kampanye nasional seperti ‘Bangga Produk Kreatif Indonesia’, serta aktivasi awal melalui pemutaran kembali film pertama 5 cm dalam format nonton bareng (nobar) di berbagai daerah sebagai bagian dari kampanye menuju peluncuran sekuel.

Selain itu, peluang promosi global melalui partisipasi dalam forum internasional seperti World Conference on Creative Economy (WCCE) serta festival film dunia menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan IP film Indonesia ke pasar global.

Wamen Ekraf juga mendorong agar pengembangan IP 5 cm diperluas melalui strategi turunan, termasuk penguatan merchandising dan kolaborasi dengan brand lokal.

“Momentum menuju penayangan perlu dimanfaatkan sejak awal. Pengembangan merchandise dan kolaborasi dengan berbagai pihak dapat membuka nilai tambah ekonomi dari IP film,” tambah Wamen Ekraf.

Soraya Intercine Films menyambut positif peluang tersebut dan berharap kolaborasi dengan pemerintah dapat memperkuat promosi, akses jejaring lintas sektor, hingga fasilitasi distribusi yang lebih luas di dalam dan luar negeri.

CEO Soraya Intercine Films, Sunil Soraya, menyampaikan bahwa sekuel terbaru akan menghadirkan cerita yang lebih segar dengan karakter generasi muda serta eksplorasi lanskap baru Indonesia.

“Kami ingin membawa semangat yang sama dari film pertama, tetapi dengan pendekatan yang lebih relevan untuk generasi saat ini. Nilai persahabatan, mimpi, dan kecintaan terhadap Indonesia tetap menjadi inti cerita,” ujar Sunil Soraya.

Audiensi ini menjadi langkah awal kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri dalam memperkuat ekosistem perfilman nasional yang berdaya saing, berkelanjutan, dan mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.(dim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *