Program KB Jangka Panjang, Pemkot Kediri Gelar Pelayanan Metode Operasi Wanita Gratis
KEDIRI – POROSNEWS.CO
Pemkot Kediri melalui DP3AP2KB Kota Kediri melaksanakan kegiatan pelayanan kontrasepsi jangka panjang dengan Metode Operasi Wanita (MOW) di RSUD Kilisuci, Selasa (15/9/2026).
Tindakan MOW ini dilakukan oleh dr Purnamawati, Sp.OG berlangsung mulai pukul 08.00 WIB diikuti 9 akseptor. Pelayanan MOW diberikan secara gratis tanpa dipungut biaya apapun.
Kepala DP3AP2KB dr Fajri Mubasysyir mengatakan, MOW merupakan salah satu metode yang sangat efektif untuk menekan angka kelahiran karena termasuk metode kontrasepsi jangka panjang dan bersifat permanen.
MOW dikhususkan bagi perempuan yang sudah tidak ingin memiliki anak, baik karena indikasi medis ataupun karena jumlah anak yang sudah lebih dari tiga.
Di tahun 2026 ini, DP3AP2KB menargetkan pelayanan MOW ke 50 akseptor. “Dari jumlah yang kita targetkan masih kurang 12 akseptor yang sedianya bisa mengikuti pelayanan MOW. Namun untuk hari ini hanya 9 akseptor yang bisa datang, 3 akseptor yang lain masih belum bisa datang karena berhalangan. Bagi akseptor yang berhalangan datang, kita akan melakukan pelayanan susulan,” terang dr Fajri secara terpisah.
Dalam menjaring akseptor, DP3AP2KB menggandeng para kader dan penyuluh KB di Kota Kediri. Untuk mengikuti pelayanan MOW, terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi. Antara lain masyarakat ber-KTP Kota Kediri, memiliki lebih dari tiga anak, berusia 35 tahun ke atas, mendapat persetujuan dari suami atau keluarga.
Dari sisi riwayat persalinan dan operasi, para akseptor juga harus memenuhi ketentuan medis, termasuk tidak memiliki riwayat operasi tertentu pada bagian perut yang dapat memengaruhi pelaksanaan tindakan.
“Setelah tindakan MOW, masa pemulihan berbeda – beda tergantung kondisi masing-masing akseptor. Ada yang setelah sadar dari tindakan dapat langsung pulang, tetapi ada pula yang memerlukan perawatan lebih lanjut di rumah sakit,” jelasnya.
Setelah tindakan dilakukan, akseptor akan mendapatkan pendampingan dari kader KB. Hal ini untuk memastikan akseptor mendapatkan informasi dan dukungan yang diperlukan selama masa pemulihan.
Dr Fajri berharap pelayanan MOW ini dapat menjangkau masyarakat, khususnya kelompok yang memiliki keterbatasan ekonomi.
“Apabila kondisi ekonomi dan keadaan keluarga dirasa tidak memungkinkan untuk memiliki banyak anak, masyarakat diharapkan dapat mempertimbangkan penggunaan metode KB yang sesuai dan memanfaatkan pelayanan MOW ini,” harapnya.
Sementara Wulan Ratnadewi warga Kelurahan Ketami menuturkan alasannya mengikuti MOW karena layanannya membantu masyarakat dan diberikan secara gratis. Apalagi di usianya 37 tahun saat ini dirinya merasa sudah cukup menjadi ibu dari tiga anak.
Mengenai pelayanan yang diterima, Wulan menilai proses dan layanan yang diberikan sudah baik. Ia mengaku sebelum mengikuti MOW menggunakan kontrasepsi implan dan sudah melakukan pemasangan atau penggantian implan sebanyak tujuh kali.
Wulan berharap adanya pelayanan MOW gratis ini dapat membantu masyarakat yang membutuhkan khususnya perempuan yang ingin melakukan kontrasepsi jangka panjang.
“Biaya pemasangan kontrasepsi secara mandiri cukup mahal sehingga pelayanan gratis seperti ini sangat membantu masyarakat,” ujarnya.(dim)

