Daerah

Pemkot Kediri Pantau Pemeliharaan Sumur PDAM di Perumahan Wilis Indah, Ditargetkan Beroperasi Akhir September 2026

KEDIRI – POROSNEWS.CO

Pemerintah Kota Kediri bersama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Dhaha terus memastikan keberlanjutan pelayanan air bersih bagi masyarakat.

Salah satunya melalui pemeliharaan sarana sumur produksi milik PDAM Tirta Dhaha di wilayah Perumahan Wilis Indah, Kelurahan Campurejo, Kecamatan Mojoroto, Kamis (17/9/2026).

Asisten Administrasi Umum Pemkot Kediri, Moh Ridwan, melakukan peninjauan langsung untuk memantau proses pemeliharaan yang dilakukan oleh PDAM Tirta Dhaha Kota Kediri.

Disampaikan, proses pemeliharaan berjalan lancar dan ditargetkan dapat selesai pada akhir September 2026, sehingga sumur dapat kembali beroperasi untuk mendukung pelayanan air bersih di wilayah barat Sungai Brantas.

“Alhamdulillah semua berjalan lancar dan tidak ada kendala. Harapannya di akhir bulan, sumur ini bisa kembali beroperasi untuk melayani wilayah barat sungai Kota Kediri, di samping sumur-sumur lainnya yang berada di wilayah barat sungai,” jelasnya.

Ridwan menegaskan, kegiatan yang dilakukan di Perumahan Wilis Indah bukan disebabkan oleh kerusakan sumur, melainkan bagian dari pemeliharaan sarana dan perpipaan yang dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi tanah di masing-masing lokasi sumur produksi.

“Perbaikan ini bukan diakibatkan oleh kerusakan, tetapi merupakan pemeliharaan perpipaan dan menyesuaikan dengan kondisi tanah. Pemeliharaan dilakukan sesuai kondisi tanah di masing-masing wilayah sumur bor,” terangnya.

Selama proses pemeliharaan berlangsung, PDAM melakukan rekayasa jaringan dengan mengoptimalkan sumber air dari sumur produksi lainnya untuk menjaga pelayanan kepada masyarakat. Saat ini, Kota Kediri memiliki total 19 sumur PDAM, 10 di antaranya berada di Kecamatan Mojoroto.

Selain melakukan pemeliharaan sarana yang sudah ada, Pemkot Kediri bersama PDAM Tirta Dhaha juga menyiapkan pengembangan sumber air baru. Salah satunya melalui rencana pembangunan sumur baru di wilayah Kecamatan Mojoroto.

“PDAM berupaya memberikan pelayanan maksimal dengan rencana pembuatan sumur baru di wilayah Mojoroto. Harapannya tahun ini ada 2 sumur baru yang bisa dibuat untuk mencukupi kebutuhan air minum di wilayah Mojoroto dan sekitarnya,” jelasnya.

Terkait kekhawatiran masyarakat mengenai penggunaan air bawah tanah dalam proses pengambilan air PDAM, Ridwan menjelaskan bahwa sumber air yang digunakan PDAM berasal dari lapisan air bawah tanah yang berbeda dengan sumur warga.

“Air yang dimiliki warga adalah air tanah, sedangkan pipa PDAM merupakan air bawah tanah yang berada jauh di bawah sumur warga. Jadi penggunaan air bawah tanah tidak berpengaruh terhadap air tanah warga,” jelasnya.

Sementara Kepala Bagian Teknik PDAM Tirta Dhaha Kota Kediri, Joko Widodo, menjelaskan, sumur yang saat ini dilakukan pemeliharaan merupakan sumur produksi wilayah utara Perumahan Wilis Indah. Sumur ini melayani Zona II yang mencakup wilayah Mojoroto, Campurejo hingga Karangsono.

Joko menerangkan, PDAM telah melakukan perhitungan kebutuhan dan ketersediaan debit air berdasarkan jumlah pelanggan serta kapasitas sumber air yang tersedia. Dari perhitungan itu. PDAM dapat memperkirakan kebutuhan suplai air di masing-masing wilayah.

Namun, dalam proses operasional sebelumnya, terdapat kendala ketika kabel PLN yang terputus mengenai pompa PDAM yang berada di kedalaman 40 meter. Kondisi itu mengakibatkan sumur runtuh dan mengunci pipa motor di dalam sumur sehingga mesin berhenti beroperasi dan berdampak pada distribusi air kepada sejumlah pelanggan.

“Ketika mesin berhenti beroperasi, suplai air kami terputus sehingga mengganggu distribusi air warga, terutama di wilayah Campurejo, sekitar Jalan DR Saharjo, sebagian Jalan Semeru dan Karangsono. Namun kami berusaha merekayasa jaringan agar layanan tetap terjaga dengan mengoptimalkan sumur kami di Ngampel dan Tamanan,” jelas Joko.

Dalam pemeliharaan kali ini, PDAM berupaya membuat jalur baru disamping pompa lama. Pekerjaan itu ditargetkan selesai pada akhir September sehingga pada awal Oktober sumur dapat kembali dioperasikan.

Setelah proses pengeboran selesai, PDAM akan melakukan pumping test untuk mengetahui kapasitas produksi sumur dalam satuan liter per detik. Hasil itu menjadi dasar dalam menentukan kapasitas pompa yang akan dipasang.

“Setelah pengeboran selesai, kami melakukan pumping test untuk mengetahui berapa kapasitas sumur per detik. Setelah itu kami menentukan kapasitas pompa yang dipasang. Kemudian akan ada uji laboratorium di Labkesda. Setelah hasilnya keluar, baru air bisa kami distribusikan kepada pelanggan,” jelasnya.

Joko menghimbau masyarakat tidak perlu khawatir mengenai dampak pengambilan air PDAM terhadap sumber air permukaan atau sumur warga. Dijelaskan sumur produksi PDAM mengambil air dari kedalaman yang berbeda dengan sumber air masyarakat.

“Insyaallah tidak berdampak karena kami mengambilnya di kedalaman setelah 50 meter. Untuk mendapatkan izin SIPA juga melalui proses yang panjang. Kementerian ESDM menentukan aturan dan kajian mengenai sumber air yang boleh diambil oleh PDAM,” jelasnya.

Ditambahkan, pada kedalaman sekitar 0–40 meter terdapat lapisan clay yang menjadi lapisan pembatas sehingga sumber air yang digunakan PDAM berada pada jalur akuifer yang berbeda dengan sumber air permukaan masyarakat.

Di sisi lain, Pemkot Kediri mengajak masyarakat untuk menyampaikan informasi apabila mengalami kendala terkait pelayanan air bersih. Masyarakat dapat menyampaikan laporan, saran, maupun keluhan melalui layanan Lapor Mbak Wali 112.(dim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *