Arak-arakan Tebu Berhias Janur Kuning Meriahkan Prosesi Manten Tebu di Pabrik Gula Ngadiredjo Kediri
KEDIRI – POROSNEWS.CO
Arak-arakan tebu yang dihiasi dengan janur kuning memeriahkan prosesi adat Manten Tebu yang berlangsung meriah di halaman Pabrik Gula (PG) Ngadiredjo Kediri, Sabtu (2/5/2026).
Prosesi Manten Tebu ini sebagai tanda bakal dimulainya musim giling tahun 2026 di pabrik gula yang dibangun di zaman Belanda. Sebelumnya juga ada prosesi Cethik Geni untuk memanasi mesin ketel menjelang dioperasikan.
Pada prosesi yang penuh dengan nuansa kearifan lokal dan tradisi masyarakat Jawa ini, tebu berhias janur kuning menyerupai penjor diarak keliling halaman PG Ngadiredjo.
Sebagaimana namanya Manten Tebu, ada petugas Cucuk Lampah yang membacakan mantra – mantra. Adat Manten Tebu ini telah ada sejak berdirinya pabrik gula di era kolonial.
Prosesi ini sebagai simbol penyatuan petani tebu sebagai penyedia bahan baku dengan pabrik gula yang mengolah menjadi gula supaya terjalin kerja sama yang harmonis. Kegiatan ini sekaligus sebagai tolak balak dan penghormatan terhadap alam yang telah memberikan hasil panen.
Seluruh petugas yang terlibat dalam kegiatan Manten Tebu ini merupakan perwakilan petani tebu mitra PG Ngadiredjo. Mereka membawa 14 pasang tebu pilihan layaknya sepasang pengantin yang akan “dinikahkan”.
Di belakang arak-arakan Manten Tebu diiringi dengan rombongan seniman Jaranan Kediren, kesenian khas di wilayah Kediri. Ada penari barongan, pentul, celengan dan penari jaranan yang membawa cemeti atau pecut.
Setelah diarak keliling pabrik, tebu dibawa ke lokasi upacara seremonial yang dihadiri jajaran manajemen PG Ngadiredjo, perwakilan petani, pemerintah daerah dan pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR).
General Manager PG Ngadiredjo Wayan Mei Purwono menjelaskan, kegiatan Manten Tebu merupakan ritual yang telah lama dilakukan sekaligus melestarikan budaya setiap menjelang musim giling.
Tebu yang dihiasi janur dipilih tebu yang terbaik dari lokasi ladang tanaman tebu di wilayah Kabupaten Kediri, Blitar dan Malang. Sesuai rencana musim giling di PG Ngadiredjo bakal berlangsung sekitar 200 hari dimulai pada tanggal 14 Mei 2026.
“Kami melakukan selamatan giling dengan diawali Tebu Manten sekaligus nguri -nguri (melestarikan) budaya leluhur,” ungkapnya.
Selain itu juga sebagai wujud ungkapan rasa syukur karena PG Ngadiredjo akan mengawali musim giling tahun 2026. “Tebu itu ibaratnya anteping kalbu, dengan ucapan bismillahirrahmanirrahim kami mengawali giling 2026 sekaligus sukses giling 2026,” jelasnya.
Pada musim giling tahun ini PG Ngadiredjo telah menargetkan dapat menggiling tebu sebanyak 11 juta kuintal dan menghasilkan gula sekitar 80.000 ton.
Wayan Mei Purwono mengharapkan dukungan masyarakat untuk memberikan support kegiatan giling yang berlangsung selama 200 hari.
“Kami mohon maaf kepada masyarakat kalau ada kebisingan dan lalu lintas yang terganggu. Mohon suport supaya sopir pengangkut tebu tidak ugal-ugalan dan tertib lalulintas,” ungkapnya.
Apalagi lokasi PG Ngadiredjo berada di jalur jalan raya nasional yang ramai menghubungkan Kediri – Tulungagung. Total untuk proses produksi pada musim giling ada 900 pekerja yang dilibatkan dalam tiga shift kerja dan sebanyak 500 sopir truk pengangkut tebu.
Wayan Mei Purwono optimis dapat memenuhi target giling apalagi telah mendapatkan dukungan dari mitra 1.000 petani tebu lebih sejak mulai persiapan lahan sampai biaya garap, penjualan gula dan tetes. “Kami terus membina mitra petani tebu sehingga tidak sampai mengalami kerugian,” tambahnya.
Bahan baku tebu yang akan dipasok ke PG Ngadiredjo berasal dari mitra petani tebu di wilayah Kediri sekitar 50 persen, Blitar 30 persen dan Malang 20 persen.
“Kami akan koordinasi dengan para petani berkaitan dengan analisis, harga gula, rendemen dan lainnya. Diharapkan petani semakin mantap mengirimkan tebunnya ke PG Ngadiredjo,” jelasnya.
Target giling dan produksi gula tahun ini mengalami kenaikan sebanyak 10.000 ton dari 70.000 ton tahun 2025 menjadi 80.000 ton tahun 2026.
Diunhkapkan Wayan Mei, proses perhitungan dengan mitra petani berdasarkan bagi hasil asumsi harga gula dan harga tetes yang dibagikan kepada petani. “Setiap minggu cairan, setiap minggu tutup DO, kita jual tetes sama -sama yang dihasilkan petani,” jelasnya.
Wayan Mei berharap pada minggu kedua bulan Mei sudah tidak ada hujan sehingga tidak ada kendala untuk angkut dan tebang tebu.
Namun tantangan baru yang dihadapi pabrik gula saat ini adalah kenaikan harga plastik untuk karung kemasan gula yang naik luar biasa serta harga belerang yang malah telah ganti harga.
“Ini tantangan kami supaya pabrik tetap efisien tidak mengurangi pendapatan petani. Kami akan efisien energi dan efisiensi pengolahan tebu dan mengurangi bahan impor tidak berlebihan,” ungkapnya.
Ditambahkan, kenaikan harga plastik melonjak satu setengah kali lipat dibandingkan dengan harga tahun 2025. Kenaikan harga plastik ini merupakan dampak dari perang yang melibatkan Iran dengan Amerika dan Israel.(didik mashudi)

