Religi

Kisah Kenteng Penanda Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026 Ternyata Bekas Bom Yang Tidak Meledak

KEDIRI  – POROSNEWS.CO

Pembukaan Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2026 ditandai dengan suara pukulan kenteng atau lonceng sembilan kali di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Sabtu (20/6/2026) malam. 

Ternyata kenteng yang menjadi penanda pembukaan kegiatan yang dihadiri ratusan delegasi dari seluruh Indonesia itu punya makna dan kisah lama yang melegenda di baliknya. 

Ihwal angka tabuhan sembilan kali sudah mafhum mewakili identitas NU dengan ciri khas bintang sembilan. Sementara pemilihan kenteng terungkap berkaitan dengan kisah lama yang melegenda di Ponpes Al-Falah Ploso.  

Logam berbentuk bulat memanjang berwarna kuning tersebut merupakan potongan dari bom penjajah Belanda yang tidak meledak.

Menurut penuturan pembawa acara pembukaan Munas dan Konbes NU, di era kolonial Pesantren Al-Falah Ploso sempat dibombardir Belanda dengan bom lantaran dianggap sebagai tempat bernaung para pejuang Republik.

Anehnya, bom-bom yang dijatuhkan tersebut, atas izin Allah SWT dan karomah pendiri pesantren KH Ahmad Djazuli Utsman, tidak meledak. 

Material bom itu akhirnya dipotong dan dijadikan Kenteng yang hingga kini dipakai sebagai penanda masuknya waktu salat lima waktu dan waktu belajar santri. 

Kenteng ini memberi i’tibar hikmah bahwa serangan yang bersumber dari pihak yang membenci, justru bisa diubah menjadi sebuah manfaat yang tidak dilupakan oleh para santri dan alumni Ponpes Al-Falah, Ploso, Kediri.

“Dari orang yang tidak suka, akhirnya jadi manfaat, karomah kiai yang masih diingat santri,” demikian sekilas penjelasan MC. 

Dalam kotbah iftitah sebelum resmi membuka acara, KH Miftachul Akhyar menyampaikan harapannya agar di penghujung kepengurusan PBNU periode ini pengurus memperoleh husnul khotimah dalam berkhidmah di NU.

“Yang kami harapkan ada setitik debu keberkahan yang bisa kita bawa pulang dari Ploso yang menjadikan semua pengurus tanfidiziyah syuriyah memperoleh khusnul khotimah dalam khidmah NU,” katanya.

Sementara Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Tsaquf dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada keluarga besar pesantren Al-Falah Ploso atas kesediaan menjadi tuan rumah.

Kepada peserta dan tamu undangan, disampaikan bahwa Munas dan Konbes kali berada di penghujung masa hidmat pengurus PBNU periode ini. Lantaran itu, harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mempersiapkan Muktamar NU pada Agustus mendatang.

“Ini adalah kesempatan kita sendiri, kesempatan pengurus Nahdatul Ulama beserta segenap pimpinan pengurus di seluruh Indonesia untuk melakukan yang terbaik. Untuk mencurahkan segenap ketulusan khidmat yang kita miliki demi mempersiapkan masa depan yang lebih baik bagi organisasi yang kita cintai,” ujarnya.

Gus Yahya juga mengajak kepada seluruh jajaran pengurus dan warga NU senantiasa menjaga kebersamaan untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

“Mari Kita laksanakan tugas kita sebaik-baiknya untuk menghadirkan kebersamaan dan kemanfaatan dengan penuh ketulusan, penuh kedamaian, penuh kejujuran dengan menghindari apapun yang dapat menimbulkan kontroversi maupun pertentangan,” katanya.

Hadir dalam kegiatan ini Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Wagub Jawa Timur Emil Dardak, segenap pengurus PBNU dan PWNU se-Indonesia, serta para tamu undangan lainnya.(dim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *