Rakor Tim Pembina Pesantren Sehat, Mbak Wali : Pesantren Sehat Harus Jadi Ruang Aman dan Nyaman Bagi Santri
KEDIRI – POROSNEWS.CO
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati memberikan arahan terkait kesehatan di pesantren. Arahan tersebut diberikan saat membuka acara Rapat Koordinasi Tim Pembina Pesantren Sehat di Ruang Joyoboyo Balai Kota Kediri, Rabu (19/08/2026).
Mbak Wali menjelaskan, Kota Kediri memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi salah satu pusat pendidikan agama yang unggul di Jawa Timur. Data Kementerian Agama Kota Kediri, mencatat terdapat 68 pondok pesantren di Kota Kediri.
Di balik puluhan pesantren tersebut ada ribuan generasi muda yang setiap hari belajar ilmu agama, membangun karakter, dan dipersiapkan menjadi bagian dari masa depan bangsa.
“Ketika berbicara tentang pesantren, tidak hanya berbicara tentang pendidikan agama. Namun juga berbicara tentang kesehatan, keamanan, lingkungan, perlindungan anak, kualitas sumber daya manusia, dan masa depan Kota Kediri. Maka cita-cita menjadikan Kota Kediri sebagai pusat pendidikan agama harus berjalan beriringan dengan cita-cita menjadikan pesantrennya sebagai pesantren yang sehat, aman, nyaman dan ramah bagi santri,” jelasnya.
Pesantren memiliki karakter yang berbeda dengan lingkungan pendidikan lainnya. Santri hidup dalam lingkungan yang sangat komunal. Di satu sisi, kondisi ini menjadi kekuatan karena membangun kebersamaan.
Tetapi di sisi lain, kondisi yang sangat komunal juga memiliki risiko kesehatan apabila tidak dikelola dengan baik. Mulai dari kebersihan kamar dan kamar mandi, pengelolaan sampah, sanitasi, kebersihan makanan dan air, sampai dengan kebiasaan menjaga kebersihan diri.
Perlu juga diberikan perhatian pada persoalan gizi, anemia pada santriwati, kesehatan reproduksi, aktivitas fisik, hingga kesehatan mental.
“Jadi konsep pesantren sehat tidak boleh berhenti pada pesantren yang bersih secara fisik. Pesantren sehat adalah pesantren yang mampu menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan fisik sekaligus kesehatan mental dan sosial para santrinya,” ungkapnya.
Wali kota menegaskan bahwa pesantren sehat tidak akan terwujud hanya karena ada program pemerintah. Kuncinya tetap ada pada perubahan perilaku setiap individu. Karena itu, harus dibangun budaya bahwa menjaga kesehatan adalah bagian dari akhlak seorang santri.
Khusus bagi santriwati, perhatian terhadap anemia dan kesehatan reproduksi harus menjadi bagian dari edukasi kesehatan di pesantren. “Kita bangun budaya pesantren yang sehat dengan santri yang alim, sehat, cerdas, bugar, berakhlak dan juga peduli terhadap kebersihan,” tegasnya.
Ada satu hal yang juga tidak boleh diabaikan ketika berbicara tentang pesantren sehat. Yaitu kesehatan mental dan keamanan santri. Karena itu, praktik bullying, perundungan, kekerasan fisik, kekerasan verbal, kekerasan seksual maupun bentuk intimidasi lainnya tidak boleh dianggap sebagai bagian biasa dari pendidikan.
Senioritas mungkin ada dalam kehidupan pesantren. Tetapi semuanya harus ditempatkan dalam koridor pendidikan yang sehat. Mendidik tidak harus dengan merendahkan. Mendisiplinkan tidak harus dengan kekerasan. Menegur tidak harus dengan mempermalukan.
Santri harus merasa aman untuk bertanya, aman untuk menyampaikan masalah, dan aman untuk mencari pertolongan ketika mengalami sesuatu yang tidak baik. Inilah yang kita maksud dengan pesantren sebagai ruang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang santri.
Pemerintah Kota Kediri bersama Dinas Kesehatan telah melakukan pembinaan kesehatan pesantren. Pada 2024, tercatat 40 pondok pesantren yang sudah mendapat pembinaan Dinas Kesehatan, dan 35 di antaranya telah memiliki Poskestren aktif.
Namun kedepan, targetnya tentu harus lebih besar. Kalau Kemenag mencatat ada 68 pesantren di Kota Kediri, maka cita-citanya adalah semua pondok pesantren harus terfasilitasi Poskestren.
Dimana Poskestren bukan sekadar ruangan atau tempat pemeriksaan ketika santri sakit. Poskestren harus menjadi pusat edukasi, pencegahan dan pembudayaan perilaku hidup sehat.
Dapat memperkuat kader kesehatan santri atau santri husada yang menjadi penggerak kebersihan dan kesehatan dari dalam pesantren sendiri. Dengan begitu, kesehatan tidak lagi hanya menjadi program pemerintah, kesehatan bisa menjadi budaya pesantren.
“Kita ingin Kota Kediri tidak hanya dikenal sebagai kota dengan banyak pondok pesantren. Tetapi juga dikenal sebagai pusat pendidikan agama yang sehat,” papar Mbak Wali.
Untuk mewujudkannya, tidak bisa dikerjakan oleh satu pihak saja. Ada pondok pesantren yang menjadi pusat pembentukan budaya. Pemerintah memberikan dukungan kebijakan, fasilitas dan layanan.
Kemenag serta organisasi keagamaan memperkuat pembinaan dan pendidikan. Puskesmas dan tenaga kesehatan memberikan pendampingan secara berkelanjutan. Paling penting, para santri sendiri menjadi agen perubahan.
Maka pesantren tidak hanya menghasilkan generasi yang kuat secara spiritual. Tetapi juga menghasilkan generasi yang sehat secara fisik, matang secara mental, kuat secara karakter dan peduli terhadap sesama.
Pesantren sehat bukan sekadar program kesehatan. Ini adalah investasi untuk masa depan. Karena para santri hari ini adalah calon pemimpin umat, pemimpin masyarakat dan bagian dari generasi penerus bangsa di masa depan.
“Mari kita bangun pesantren yang bukan hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga kuat dalam kesehatan. Bukan hanya disiplin, tetapi juga ramah, bersih secara lingkungan, tetapi juga sehat secara mental. Pesantren bukan hanya menjadi tempat belajar, tetapi menjadi ruang yang aman bagi setiap santri untuk tumbuh dan berkembang. Tujuan besarnya menjadikan Kota Kediri sebagai pusat pendidikan agama yang sehat, aman, nyaman dan berkemajuan,” tandasnya.
Turut hadir, Wakil Wali Kota Qowimuddin, Plt Kepala Dinas Kesehatan dr Hamida, Kepala Bagian Kesra Yono Heryadi, narasumber, perwakilan pengasuh pondok pesantren, kepala puskesmas, lembaga kesehatan NU, ketua promosi kesehatan Rumah Sakit.(dim)

